saya ingin sedikit berbagi cerita tentang pengalaman saya melakukan
investasi disalah satu perusahaan asset manajemen dalam bentuk intrumen
reksadana. Awal kisah, saya memang sangat tertarik dengan dunia pasar modal. Khususnya
saham. Suatu ketika saya dikenalkan lewat teman suatu perusahaan sekuritas. Perusahaan
ini keren. Ada satu kelebihan perusahaan ini dibanding perusahaan lain. Yaitu biaya
administrasi bulanan. Jika di perusahaan sekuritas yang umumnya online trading
membebankan biaya administrasi perbulan yang rata-rata Rp30.000. maka
perusahaan ini menggratiskannya. Tapi sedikit kekurangan, biaya top –up awal
yang lumayan besar yaitu Rp5.000.000. membuat saya mengurungkan niat.
Singkat cerita, saya di rekomendasikan oleh analis diperusahaan
tersebut untuk invest dalam bentuk reksadana. Dan analsis tersebut
merekomendasi perusahaan bukan tempat dia bekerja, melainkan perusahaan lain. Saya
ingat kata-katanya “mending kalau reksadana di P****n aja. Analisnya jago-jago.”
Saya pun mencari informasi mengenai reksadana tersebut dan ternyata….
Memang benar, NAB (nilai aktiva bersih) salah satu produknya
bergerak sangat agresif.
Akhirnya saya melakukan investasi, tidak terlalu banyak, dan dalam
kurun waktu kurang tiga bulan. Saya mendapat profit 5% lebih.
Kalau terus melihat pergerakan IHSG, nampaknya reksadana saya akan
terus mengalami kenaikan. Karena dalam sejarah ini merupakan IHSG tertinggi. Kenapa
saya menyangkut pautkan IHSG dengan reksadana? Ini karena reksadana saya adalah
reksadana FULL SAHAM. Dan IHSG adalah pergerakan semua saham. Jika IHSG naik. Reksadana
saya naik.
Tapi, ada sedikit kabar buruk. Dalam perdagangan saham dalam satu
tahun ada yang namanya bulan jual. Jadi semua investor akan menaruh posisi di
SELL. Dan bulan itu adalah bulan ini MEY. Ya, bagaimnapun juga ini investasi. Kalau
tidak GAIN ya LOSS.
Demikian sedikit cerita tentang investasi